Integrity Headless CMS Integrity Indonesia (/id/id/)
cybersquatting
Artikel

Bagaimana cybersquatting mengancam merek di media sosial

putri pertiwi
• 3 min read
CMS Editor Preview

cybersquatting brand infringementPenggunaan internet telah berkembang pesat selama lebih dari satu dekade belakangan. Salah satunya ditandai dengan lahirnya ratusan platform media sosial baru.

Dengan semakin populernya penggunaan media sosial, semakin banyak orang dan bisnis yang terjun ke dunia maya untuk menjual, mengiklankan, atau mempromosikan perusahaan, nama, produk, atau layanan mereka.
Seiring peningkatan penggunaan media sosial sebagai platform bisnis, bertambah pula tantangan dalam perlindungan merek. Salah satunya adalah cybersquatting atau penyerobotan hak dan aset suatu domain.

Insiden cybersquatting pada tahun 2022 berada pada titik tertinggi sepanjang masa, menurut tim VPN Atlas. Sepanjang tahun ini, 5.616 pengaduan terhadap cybersquatting diajukan ke Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO), meningkat sekitar 10% dari tahun lalu.

Bagaimana cybersquatting mengancam merek

Cybersquatting mengacu pada entitas yang menggunakan, memanfaatkan, memperdagangkan, atau meniru domain merek terkenal atau terdaftar tanpa izin dari pemilik merek untuk mengambil keuntungan dari reputasi mereka. Misalnya, entitas membuat domain dengan nama starbuck.org, netflix.net, atau whatsalapp.com.
Masalah ini sudah ada sejak awal internet ketika orang dan bisnis belum sadar akan pentingnya kehadiran digital.

Contoh nyata dari cybersquatting adalah kasus Microsoft vs MikeRoweSoft, di mana Mike Rowe mengatur MikeRoweSoft.com untuk mempromosikan layanan desain webnya. Dia melakukannya karena permainan kata fonetik yang terdengar seperti ‘Microsoft.’

Contoh lain adalah kasus Tom Cruise. Aktor ‘Mission Impossible’ ini membawa kasusnya ke WIPO pada 2006 melawan Jeff Burgar, yang telah memiliki domain TomCruise.com selama lebih dari sepuluh tahun.
Media sosial yang berkembang memperparah masalah ini. Cybersquatting di media sosial disebut “username squatting” atau “impersonation” yang terjadi ketika entitas atau individu mendaftarkan akun mereka dengan username merek terkenal atau tokoh terkemuka. Kasus ini pernah terjadi terkait dengan Twitter Blue yang kontroversial.

Seiring kita sampai pada era web 3, kasus Hermès International vs Mason Rothschild harus menjadi pelajaran lain yang bisa dipetik dalam perlindungan merek. Rumah mode Prancis ini menggugat artis NFT, Mason Rothschild, karena memproduksi dan menjual NFT yang disebut MetaBirkins.

Menurut Hermès, penjualan NFT MetaBirkins melanggar merek Birkin-nya. Dengan disematkannya merek ‘Birkin’ seolah-olah NFT itu adalah produk digital resmi Hermès, dan merusak serta melemahkan reputasi Hermès. Hermès juga menuntut Rothschild atas tindakan cybersquatting karena situs web yang menawarkan NFT di-hosting dengan nama domain metabirkins.com.

Cybersquatting dapat menyebabkan berbagai masalah bagi merek. Masalah tersebut antara lain adalah pesan yang membingungkan bagi konsumen dan ketidakkonsistenan dalam branding secara daring.
Lebih buruk lagi, phisher dapat menggunakan domain cybersquatting untuk memposting tautan jahat ke pengguna media sosial untuk mencuri informasi sensitif mereka. Pada akhirnya, cybersquatting berpotensi besar menodai reputasi merek.

Apa yang bisa dilakukan oleh merek

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Pertama dan terpenting, perusahaan perlu mendaftarkan domain atau username mereka sebagai merek dagang. Kedua, pemilik merek mungkin ingin mempertimbangkan untuk mendaftarkan akun dengan berbagai nama pengguna dengan elemen typosquatting, homograph squatting, dan combosquatting yang terkait dengan bisnis mereka.

Terakhir, merek harus memantau username mereka agar tidak dibajak. Jika terjadi pembajakan, merek dapat merujuk masalah tersebut ke kebijakan keamanan merek media sosial.
Secara umum, mereka mengizinkan pemilik merek untuk melaporkan pelanggaran. Jika pelanggaran terbukti, mereka akan menghapus konten atau akun tersebut.

Merek dapat memanfaatkan kebijakan ini. Pemantauan yang komprehensif dan penegakan yang cepat sangat penting untuk mengurangi jumlah konsumen yang menjadi korban.
Namun, pengawasan bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan strategi khusus, konsistensi, dan sumber daya manusia yang profesional di bidang ini.

Integrity Asia siap membantu merek melindungi identitas dan reputasi mereka dengan melawan pelanggaran terhadap produk mereka. Selain menghapus produk palsu di saluran daring, Integrity Asia juga berpengalaman dalam pemantauan berkelanjutan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi apakah domain, usernames, atau produk yang dilanggar ditawarkan kembali menggunakan akun atau saluran yang berbeda.

 

 

Putri

Photo by Adem AY on Unsplash