Fraud oleh top manajemen akibatkan kerugian terbesar
Risiko kerugian yang diakibatkan oleh fraud dalam sebuah perusahaan berkorelasi erat dengan posisi pelaku. Semakin tinggi jabatan pelaku, semakin besar potensi kerugian yang ditimbulkan.
Report to the Nations 2022 melaporkan bahwa fraud yang dilakukan oleh tingkat eksekutif memang paling sedikit dan jarang dibandingkan posisi lainnya, hanya sebesar 23% dari total kasus fraud yang terjadi. Namun, justru merekalah yang menyebabkan kerugian paling signifikan, dengan kerugian rata-rata 337.000 dolar AS.
Lihai menghindari audit
Disarikan dari fraud-magazine.com, ada beberapa faktor yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Pertama, pejabat eksekutif memiliki otoritas untuk campur tangan dalam proses pengendalian internal, termasuk audit, sehingga memungkinkan untuk memanipulasi proses dan hasilnya.
Kedua, mereka memiliki akses yang paling besar terhadap aset organisasi dan relasi eksklusif dengan pihak eksternal. Hal ini memudahkannya untuk melakukan kecurangan.
Ketiga, eksekutif memiliki otoritas untuk mengeluarkan peraturan yang dapat menutup peluang atau membatasi peluang pihak lain untuk menyingkap kecurangan yang dilakukan.
Semakin lama penipuan tidak terdeteksi, semakin besar kerugiannya.
Pelaku pada tingkat eksekutif yang telah bekerja lebih dari 10 tahun di sebuah perusahaan mengakibatkan kerugian rata-rata sebesar $240.000. Hal ini berarti kerugian yang dialami enam kali lebih besar daripada kerugian dari fraud yang dilakukan oleh rata-rata pekerja di level bawahnya.
Mitigasi fraud tingkat eksekutif
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan organisasi sebagai upaya mitigasi fraud yang dilakukan oleh top management, yaitu:
- Pre-employment screening. Merekrut karyawan untuk tingkat posisi senior memberikan tingkat tantangan yang berbeda dibandingkan dengan mempekerjakan karyawan lain. Keputusan perekrutan yang buruk di tingkat senior dapat memiliki efek riak, tidak hanya dari aspek moneter, tetapi juga pada moral dan reputasi. Mengingat risiko tersebut, melakukan pre-employment screening yang lebih mendalam sangat diperlukan. Dalam pre-employment screening dilakukan berbagai macam pengecekan informasi, salah satunya reverse directorship. Pengecekan ini bertujuan untuk menentukan posisi kandidat sebelumnya di perusahaan lain serta memverifikasi kepemilikan saham.
- Post-hire screening. Post-hire screening tak kalah pentingnya dengan pre-employment screening karena menyediakan alat yang berharga bagi pemberi kerja untuk mengevaluasi risiko ancaman fraud dan memastikan bahwa mereka menempatkan karyawan yang tepat pada posisi yang tepat.
- Sistem whistleblowing. Sistem whistleblowing telah terbukti menjadi alat yang efektif untuk mendeteksi fraud. Menurut berbagai penelitian, organisasi yang tidak memiliki sistem whistleblowing menanggung kerugian rata-rata yang hampir dua kali lipat daripada organisasi yang memiliki. Sistem whistleblowing yang baik harus memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pelapor. Sistem ini harus bebas dari segala hambatan, bebas digunakan, mudah diakses, dan mampu memfasilitasi komunikasi dua arah dengan pihak pelapor. Selama lebih dari dua dekade, klien kami dari berbagai latar belakang bisnis telah mempercayai Integrity Asia untuk menyediakan layanan kepatuhan, yang di antaranya adalah pre-employment background screening, post-hire screening, dan Canary Whistleblowing System.
Dengan melakukan mitigasi, perusahaan Anda akan lebih siap dalam mengambil keputusan perekrutan dan memastikan bahwa perusahaan Anda tidak terlalu rentan terhadap potensi risiko fraud. Hubungi kami sekarang untuk informasi lebih lanjut.
Putri
Image by Gerd Altmann from Pixabay