Integrity Headless CMS Integrity Indonesia (/id/id/)
britta nielsen
Artikel

Kasus fraud Britta Nielsen, ironi di negara ‘terbersih’

putri pertiwi
• 4 min read
CMS Editor Preview

britta nielsenKasus Britta Nielsen mungkin belum banyak didengar oleh khalayak global. Namun, kasus ini mendapat perhatian dari publik Denmark lantaran merupakan kasus fraud terbesar di negara yang terkenal selalu menduduki puncak daftar negara-negara yang paling bersih dari tindak korupsi.

Emil Ellesøe Ditzel, jurnalis dari sebuah stasiun TV Denmark, mengangkat kembali kasus yang pernah ia liput sebagai sebuah pembelajaran dalam acara European Compliance And Ethics Conference 2022. Kasus tersebut mengenai penggelapan dana sosial oleh Britta Nielsen yang tak terungkap hingga puluhan tahun.

Britta Nielsen adalah mantan pekerja sosial yang pernah bekerja selama empat puluh tahun di National Board of Social Services (Socialstyrelsen), organisasi di bawah Kementerian Sosial yang mendistribusikan dana kepada kelompok rentan secara sosial di negara tersebut, seperti tunawisma, pecandu narkoba, kelompok orang berkebutuhan khusus, dan lain-lain. Dalam kurun waktu dua puluh lima tahun, yaitu dari 1993 hingga 2018, ia berhasil menggelapkan uang sejumlah 17 juta USD.

Dibandingkan kasus fraud organisasi pemerintah di negara lainnya, katakanlah kasus korupsi dana COVID-19 di Amerika Serikat, angka tersebut tidaklah fantastis. Namun, bagi negara ‘terbersih’, kasus ini terbilang pukulan telak.

Bagaimana ia bisa mencuri uang negara tanpa terdeteksi dalam waktu yang lama?

Kronologi Fraud

Tidak seperti kasus fraud pada umumnya, Britta tidak menunjukkan red flags perilaku. Ia dikenal sebagai sederhana, rendah hati, dan tidak gila kontrol. Ia juga penerima penghargaan Queen’s Medal of Merit atas pelayanannya kepada masyarakat. Dengan perilaku dan penghargaan tersebut, tentu tidak ada satu orang pun yang menaruh curiga padanya.

Tidak ada metode baru yang digunakan oleh Britta untuk mencuri uang negara. Bahkan, bukan sebuah metode yang jenius.

Britta membuat perusahaan non profit dan proyek fiksional dengan akun bank atas nama dirinya untuk menerima dana tersebut. Ia juga mencuri dana-dana yang seharusnya ditransfer ke akun organisasi lain.

Pada awalnya, ia menggelapkan dana dalam jumlah kecil. Namun, seiring waktu, ia mencuri dalam jumlah besar.

Kecurigaan awal muncul pada 2012, ketika sebuah bank mengirimkan surat aduan tentang dugaan transaksi pencucian uang kepada kepolisian Denmark. Transaksi tersebut mencurigakan karena akun Britta menunjukkan tren aktivitas penerimaan dan penarikan tunai dalam jumlah yang sangat besar dengan melibatkan perusahaan kuda dan kementerian.

Bank tidak dapat mengerti mengapa nasabah mereka menerima dan menarik uang tunai dalam jumlah sangat besar dan mengapa National Board of Social Services harus mendukung perusahaan kuda. Sayangnya, tidak ada tanggapan untuk aduan ini lantaran kepolisian sangat kekurangan staf pada saat itu.

Kasus kembali muncul di permukaan saat tahun 2018, koleganya menemukan adanya dana hilang sebesar lebih dari 9.700 USD untuk sebuah proyek pengadaan rumah. Terseret kasus tersebut, Britta melarikan diri ke Afrika Selatan. Ia pun akhirnya ditangkap di negara tersebut dengan barang bukti uang tunai.

Penyebab fraud terjadi bertahun-tahun

Investigasi pada kasus ini menemukan dua fundamental yang menyebabkan fraud ini berlangsung dalam periode yang lama. Pertama, lemahnya mekanisme kontrol internal. Tidak ada kontrol sistemik dalam manajemen keuangan proyek-proyek yang mereka danai.

Menurut studi, pengendali internal merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap fraud. Sebanyak 29% dari organisasi korban fraud tidak memiliki pengendalian internal yang memadai untuk mencegah terjadinya penipuan.

Britta menjalani dua fungsi pekerjaan: ia dengan mudah mengubah akun bank di dalam sistem dan juga melakukan transaksi. Padahal, kedua fungsi tersebut seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang sama.

Kedua adalah faktor kepercayaan. Britta menjadi orang yang sangat dipercaya, hingga diberikan amanah untuk menjadi ‘penjaga’ bagi seluruh sistem di perusahaan. Bahkan, menurut Ditzel, tak hanya para kolega, para manajer pun terkadang mengandalkannya. Tak heran jika Britta mengetahui seluk beluk sistem kerja organisasi tersebut tanpa adanya pengawasan.

Hal ini yang juga memungkinkannya menutupi jejak penggelapannya selama dua dekade lebih. Jika ada temuan masalah keuangan, ia akan mengambil alih untuk menutupi jejaknya.

Memang, tidak ada organisasi yang bersih sama sekali dari fraud. Namun, jika pengendalian internal memadai dan berfungsi dengan baik, setidaknya fraud dapat dideteksi sedini mungkin, sehingga mencegah kerugian yang lebih besar.

Langkah lain, jika organisasi tidak mempunyai cukup sumber daya untuk melakukan pengawasan internal, dia bisa bekerjasama dengan organisasi pihak ketiga yang menyediakan sistem pencegahan fraud secara komprehensif. Salah satu organisasi tersebut adalah Integrity Asia. Kontak kami untuk informasi lebih lanjut tentang layanan anti-fraud.

 

Putri
Image by Freepik