Skip Tracing Media Sosial: Cara Efektif Melacak Keberadaan Pelaku Fraud
Apa yang akan perusahaan Anda lakukan apabila salah seorang karyawan melakukan sebuah tindak kecurangan, misalnya menggelapkan dana atau mencuri properti perusahaan, lalu menghilang tanpa jejak?
Di era digital ini, ketika seseorang mencoba melarikan diri, jejak mereka tidak sepenuhnya hilang, terutama jika mereka aktif di media sosial. Salah satu metode yang efektif untuk melacak keberadaan seseorang yang hilang adalah dengan menggunakan teknik yang disebut skip tracing media sosial.
Apa Itu Skip Tracing?
Seperti dikutip dari kamus Oxford, skip tracing adalah “sebuah tindakan atau praktik menemukan orang hilang atau orang yang terlibat utang, terutama sebagai seorang profesional”. Sementara skip tracing tradisional mungkin melibatkan pencarian data fisik seperti alamat rumah atau nomor telepon, skip tracing media sosial memanfaatkan informasi digital yang tersedia di platform media sosial, contohnya Facebook, Instagram, LinkedIn, dan Twitter.
Skip tracing adalah salah satu investigasi paling menantang karena keterbatasan informasi atau data terkait aktivitas atau lokasi terakhir target. Namun, kemajuan teknologi dan popularitas media sosial memberikan peluang baru untuk menemukan individu yang mencoba menghilang dari radar.
Milenial, Gen Z, dan Aktivitas Media Sosial
Di zaman ini, kita hidup di mana milenial dan Gen Z mendominasi populasi pekerja. Berdasarkan penelitian Pew Research Center, sekitar 80% milenial aktif menggunakan setidaknya satu platform media sosial. Jika karyawan yang melakukan kecurangan dan menghilang adalah seorang milenial atau Gen Z, maka peluang untuk menemukan jejak mereka lebih besar. Mengapa demikian?
Berdasarkan banyak penelitian dan klasifikasi, milenial secara umum dikategorikan sebagai orang-orang yang lahir antara 1980 dan awal 1990. Salah satu karakter paling menonjol dari milenial adalah keakraban mereka dengan teknologi komunikasi, digital dan media. Adapun Gen Z mencakup individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Berbeda dengan milenial, Gen Z adalah generasi pertama yang benar-benar tumbuh bersama teknologi digital sejak lahir. Mereka sering disebut sebagai digital natives karena memiliki keakraban yang mendalam dengan perangkat digital dan media sosial.
Dalam beberapa penelitian dan artikel terkait milenial dan aktivitas-aktivitas daring (terutama di platform media sosial), ditemukan bahwa milenial dan Gen Z memiliki ketergantungan pada media sosial dan engagement – likes, comments dan shares. Mereka berbagi berbagai hal secara daring dan tidak pernah khawatir dengan kemanan dan privasi mereka. Sebuah survei mengatakan bahwa 56% milenial cenderung suka berbagi lokasi. Milenial sangat aktif dalam menggunakan media sosial karena mereka ingin mendapatkan popularitas. Kebiasaan tersebut memberikan kami sebuah cara untuk menemukan mereka (apabila mereka menghilang atau kabur karena melakukan tindak kecurangan) yaitu dengan menggunakan metode pengintaian media sosial atau social media surveillance.
Pengintaian Media Sosial
Norris dan Armstrong dalam buku yang berjudul The Maximum Surveillance Society: The Rise of CCTV mendefinisikan pengintaian atau surveillance sebagai proses menonton dan mengawasi individu atau populasi. Pengintaian menjadi inti aktivitas dalam melakukan skip tracing. Setelah mendapatkan informasi tentang lokasi target, maka pengintaian siap dilakukan. Namun, pengintaian dengan cara konvensional memakan banyak sumber daya. Di masa kini, ada cara baru melakukan pengintaian yaitu pengintaian media sosial.
Christian Fucjs menulis dalam sebuah artikel akademik berjudul Social Media Surveillance bahwa pengintaian media sosial adalah pengintaian profil yang mengandung informasi dari berbagai konteks sosial yang berbeda. Pengintaian media sosial juga merupakan kegiatan mengumpulkan konstruksi identifikasi kolaboratif dengan bantuan gambar, dinding komentar dan sebagainya. Informasi-informasi tersebut (yang dipublikasi secara daring di akun media sosial seseorang) bisa diakses oleh publik dan membuat publik bisa melakukan pengintaian berdasarkan informasi cuma-cuma.
Milenial biasanya berbagi lokasi dengan berkomentar atau memperbarui status tentang aktivitas-aktivitas mereka dan informasi relevan lainnya yang menjadi kunci dalam pengintaian media sosial.
Cara Kerja Skip Tracing Media Sosial
Penggunaan media sosial untuk skip tracing mencakup beberapa metode investigasi:
1. Pencarian profil publik.
Banyak informasi dapat diambil langsung dari profil publik seseorang. Ini bisa mencakup lokasi terkini, teman atau keluarga terdekat, dan bahkan kebiasaan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang menghilang mungkin memiliki teman yang secara teratur menandainya di foto atau status.
2. Analisis gambar dan geotagging.
Foto yang diunggah di media sosial sering kali memiliki metadata, termasuk lokasi pengambilan foto. Informasi ini dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan terakhir individu tersebut.
3. Pemantauan aktivitas digital.
Mengamati aktivitas terbaru seperti likes, komentar, dan shares dapat memberikan petunjuk mengenai keberadaan seseorang. Aktivitas yang dilakukan pada jam tertentu atau interaksi dengan akun lain dapat menjadi indikator signifikan.
4. Kolaborasi dengan platform media sosial.
Dalam beberapa kasus, penyelidik dapat meminta bantuan resmi dari platform media sosial untuk mendapatkan data pengguna yang lebih spesifik, meskipun hal ini memerlukan dasar hukum yang kuat.
Mengapa Membutuhkan Jasa Investigasi ?
1. Risiko kesalahan identifikasi
Skip tracing media sosial melibatkan analisis data yang tidak terstruktur, seperti nama pengguna, foto, atau interaksi. Ini bisa mengarah pada kesalahan identifikasi, terutama ketika ada banyak individu dengan nama yang sama atau profil palsu. Pihak ketiga memiliki pengalaman dalam memvalidasi data untuk memastikan identitas yang benar.
2. Kepatuhan terhadap hukum dan etika
Investigasi menggunakan media sosial dapat menghadapi batasan hukum, termasuk undang-undang privasi data dan regulasi siber. Pihak ketiga memiliki pengetahuan tentang hukum yang berlaku dan dapat memastikan bahwa skip tracing dilakukan secara sah dan sesuai dengan peraturan yang berlaku, menghindari risiko hukum bagi perusahaan.
3. Keahlian analisis dan interpretasi data
Menginterpretasikan data media sosial dengan tepat membutuhkan keahlian khusus. Pihak ketiga yang berpengalaman dapat mengidentifikasi pola, hubungan, dan indikasi penting dari data yang mungkin terlewatkan oleh penyelidik internal yang kurang berpengalaman.
PT. Integrity Indonesia menyediakan layanan investigasi bisnis, termasuk metode skip tracing secara luring dan daring yang efektif untuk melacak keberadaan individu yang menghilang. Hubungi kami hari ini untuk mendapatkan solusi investigasi yang tepat dan melindungi aset perusahaan Anda dari risiko yang tidak diinginkan.
Baca Juga: Pengintaian Media Sosial (2): Sebuah Kisah Sukses Pelacakan Pelaku Fraud